Selasa, 08 September 2009

Perempuan di Kisaran Waktu

Dalam beberapa dekade, Perempuan Aceh mengalami banyak perubahan yang jauh lebih maju atau jauh lebih mundur ketimbang pendahulunya. Perilaku dan gaya hidup saat ini merupakan cermin mutlak bagi keberadaan kaum perempuan Aceh yang haus perkembangan dan modernisasi di mata dunia.

Perempuan adalah Pewaris prilaku dan sekaligus sebagai guru besar pada anak-anak yang dilahirkannya, emua ini tidak dapat di pungkiri, bahwa perempuan juga adalah pertahanan atau benteng terakhir setiap budaya yang ada di muka bumi ini.

Begitu juga dengan perempuan Aceh. Mereka adalah penganut setia warisan para pendahulunya, misalnya nasehat keramat orang tua yang di dapatnya saat kanak-kanak, menginjak masa pubertas yaitu di umur yang relatif sangat muda (belia) hingga usia mereka memasuki jenjang rumah tangga.

Berbagai perkataan orang tua terutama yang perempuan menjadi sokoguru yang jitu saat mereka menjalani kehidupan yang sesungguhnya yaitu ketika mereka jauh dari kedua orang tua (merantau), disinilah segalanya di implementasikan.

Pada masa pubertas, wanita Aceh di bekali berbagai urusan belajar dan menyerap kemampuan orang tua dalam mengurusi rumah, masak hingga mengurusi adik-adik mereka selain menjalankan pendidikan di sekolah. Para orang tua saat mengajari putrinya memiliki berbagai cara; baik cara yang lunak, memaksa, agamis atau dengan cara-cara intelektual yang pada dasarnya di dapat melalui pengalaman hidup (otodidak), disini orang tua kerap memberikan pengertian atas kebiasaan-kebiasaannya terdahulu yang pernah mereka rasakan saat berinteraksi dengan ibu mereka.

Penularan pengalaman dari generasi ke generasi dalam tatanan masyarakat Aceh secara tidak sengaja terbukti dapat mempertahankan kultur atau adat istiadat yang mau tidak mau harus di taati dan di jaga keberadaannya. Penekanan orang tua dalam membekali anak-anak perempuan juga sangat berbeda dengan anak-anak laki-laki, hal ini terbukti dari hasil yang di temukan saat ini. Dimana anak lelaki lebih diarahkan pada kondisi menyiasati hidup sendiri, lewat merantau dan anak perempuan lebih banyak membantu orang tua di rumah dalam mengurusi pekerjaan-pekerjaan rumah. Semua ini kita temukan hampir di seluruh daerah Aceh.

Tetapi tidak hanya itu, budaya Aceh juga membenarkan bahwa perempuan dapat juga bekerja mengurusi sawah ladang tanpa bantuan laki-laki, sementara laki-laki lebih di khususkan mencari penghasilan lain di luar bertani. Dan bagi kaum perempuan yang banting tulang di sawah dan kebun tidak pernah merasa risih dan canggung, sebab adat mengajarkan mereka seperti itu. Semua ini agaknya sudah menjadi hak dan kewajiban yang tidak bisa di tawar-tawar lagi dan persoalan seperti ini pernah di kritik oleh pegiat HAM dan LSM yang konsen tentang perempuan, bahwa semua ini tidak diperbolehkan, karena di sana ada indikasi intimidasi dan pelanggaran HAM terhadap perempuan.

Meskipun perkataan mereka disosialisasikan secara sempurna untuk mengubah pola adat dan kehidupan masyarakat yang sudah turun temurun melakukan pekerjaan seperti ini, ternyata masyarakat Aceh terutama perempuan pekerja kembali lagi menjadi siapa diri mereka, bahkan anggapan masyarakat setempat kepada orang-orang yang mencoba mencampur adukkan kepentingan organisasi dengan adat yang berlaku di tempat itu adalah sebuah pelanggaran HAM berat, karena sifatnya ingin merubah semua tatanan yang telah diciptakan pendahulunya.

Salah seorang penduduk Aceh besar yang berprofesi sebagai pengangkut pasir dan batu, Husaini sempat mengatakan pada Investigasi baru-baru ini, “ kami tidak tahu apa itu HAM yang di katakan anak-anak perempuan yang datangnya dari kota itu, setelah istri saya masuk perkumpulan mereka kami tidak lagi menggarap sawah, istri saya sibuk kumpul-kumpul dengan perempuan-perempuan ysng saya tidak tahu apa mau mereka. Penghasilan kami hanya dari angkut pasir saja saat ini, tapi saya mau mengadu kemana, “ keluh Husaini.

Sejak masuknya program perempuan di Aceh besar banyak masyarakat yang mengeluh adanya perubahan kehidupan tradisi mereka, hal ini juga di rasakan pada anak-anak perempuan mereka yang biasanya berprilaku layaknya perempuan Aceh Besar yang taat pada orang tua, mengaji pada saat Magrib menjelang Isya dan diam di rumah setelah pulang mengaji dan sebagainya, kini mulai runtuh tersebab teknologi komunikasi dan program-program perempuan yang senantiasa mengajak mereka merubah kultur.

Aini Arista (bukan nama sebenarnya) salah seorang pemerhati Perempuan Aceh menyebutkan, “ program perempuan untuk kawasan Aceh seharusnya memplotkan diri dalam cultur setempat, tidak bisa dibuat sekehendak hati, karena daerah Aceh sangat berbeda dengan Jakarta atau daerah lain. Saya kitra dengan menyamarkan nama saya masyarakat Aceh besar juga tahu siapa saya, jadi saya berharap pada pegiata HAM perempuan, jangan melakukan pelanggaran HAM terhadap perempuan-perempuan Aceh dengan memaksakan berbagai program kalian, apalagi merusak khasanah yang telah ada dan turun temurun sifatnya, arahkan saja para perempuan Aceh di manapun berada dan bawa mereka ke khasanah keislaman karena inilah pegangan kita para pegiat perempuan, agar mereka dapat harmonis dalam keluarga dan pergaulan di kampung mereka. “urai Aini

ketika teknologi mulai berkembang, maka transformasi kebiasaan , adat dan adab semakin pudar dan luntur dimakan kecanggihan alat-alat komunikasi. Sehingga proses belajar mengajar antara generasi kian tidak sempurna. Saat ini lebih dari 70 persen perempuan Aceh miskin terhadap konsep hidup, gelar perempuan Aceh yang selalu pandai memasak, mengurusi rumah atau perduli kepada saudara semakin kehilangan makna aslinya dan berubah menjadi metropolis tanggung yang serba mudah diakali oleh keadaan.

Maka saatnya memperbaiki keadaan, lewat program-program perempuan yang lebih mengena ke dasar budaya dan adat istiadat yang ada, jangan melawan, sebab mereka juga akan memberikan perlawanan yang lebih sengit dari apa yang di bayangkan.

Meski kini para perempuan Aceh yang haus modernisasi semakin tak terbendung jumlahnya dan arus globalisasi semakin tak terbendung setidaknya ada kiat-kiat tertentu untuk memperkecil angka melupakan kultur, sehingga ketika para wanita ini beranjak dewasa dan memasuki jenjang perkawinan, mereka dapat berharga bagi keluarga terutama dalam mentranformasikan perilaku kehidupan pada buah hatinya.

*Rahmad Sanjaya

Nabhani HS


Penulis Aceh Belum Memperhitungkan Mutu

Nabhani HS adalah seorang sastrawan dan juga penulis Aceh yang karyanya kerap muncul di berbagai media baik di Banda Aceh maupun di luar Aceh, ketika acehkita menjumpainya di Taman Budaya, dia sangat menginkan dunia penulisan di Aceh semakin terus berkembang juga berbobot, Nab mengaku sangat senang melihat perkembangan penulisan di Aceh akhir-akhir ini, meski bobot atau mutu belum terjaga.

Dalam pengamatan saya setelah kejadian tsunami ada sesuatu yang menggembirakan di dunia kepenulisan Aceh. Banyak penulis-penulis muda dan karyanya yang bagus-bagus muncul seperti air bah yang tidak terbendung, semua ini dapat kita buktikan dengan banyaknya terbitan buku-buku baik dalam karya sastra seperti antologi puisi, novel, cerpen dan lain sebagainya tidak ketinggalan pula para penulis ini juga menerbitkan buku-buku yang bertemakan sosial.

Kawan-kawan ini terus bergerak, sebagian besar mereka penuh dengan kemandirian, baik dari mulai cara penulisaan, menata buku, mencari dana hingga ke permasalahan penerbitan, ini pertanda ada perubahan yang terjadi dari tahun ketahun dan saya dapat merasakan ada aroma yang sangat kuat sehihingga saya percaya dunia kepenulisan Aceh akan terus berkembang pesat seperti di kota-kota lain.

Terlepas dari semua itu, banyaknya bermunculan buku-buku atau karya-karya teman-teman kita itu terkadang tidak di barengi dengan munculnya bobot mutu dari karya yang mereka keluarkan, terlihat pemikiran-pemikiran yang masih sangat sederhana dan terkesan hanya sebatas kulitnya saja. Maka maklumlah kita kemandirian ternyata harus disertakan dengan komunikasi antar penulis, saling tukar pendapat atau berdiskusi sehingga karya yang muncul kepermukaan akan semakin hidup

Berangkat dari pengalaman masa lalu, penulis saat ini agaknya melupakan banyak hal, semestinya ada niat untuk belajar dari pengalaman yang sudah pernah ada, di tahun 80 an hingga akhir tahun 90 an penulis-penulis kita selalu dibina secara bebas oleh sebuah media, mereka terorganisir sedemikian rupa, sehingga banyak bermunculan nama-nama yang sangat akrab di hati kita hingga saat ini, apakah dia menjadi seorang sastrawan, penulis essey, cerpen maupun artikel, penulis-penulis ini dapat dipantau oleh setiap orang, baik secara personal maupun karya.

Penulis hari ini tidak mendapatkan dunia kebersamaan seperti itu, mereka yang muda sepertinya belajar menurut alam mereka tanpa ada seorangpun yang mengarahkan, baik lewat media, secara personal maupun secara diskusi-diskusi, lecutan kreatifitas mereka kalau boleh saya katakan hanya sebatas membaca buku, koran dan pengalaman pribadi, padahal ini belum cukup untuk menjadikan mereka seorang penulis yang benar-benar bertahan di masa yang akan datang.

Maka dari itulah saya berharap pada semua teman-teman, mari kita membuka diri untuk menghadirkan kembali diskusi-diskusi karya, kritik-kritik karya yang gunanya banyak sekali terutama bagi generasi penulis apapun namanya di Aceh, bagi kita tidak ada guru di sini yang ada hanyalah saling bersilaturahmi baik personal maupun karya, sehingga jemaah penulisan di Aceh makin marak tumbuh dan berkembang juga bobotnya sangat di perhitungkan.

Rahmad Sanjaya

Rabu, 12 Agustus 2009

Nabella Volary ”Antara Fasion dan Bintang Film”

Dunia Modeling merupakan awal dari perjalanan karir Nabella Volary, besutan Rasman Abbas (Cek man) sejak duduk di bangku kelas satu Sekolah Menegah Atas ini semakin matang akan dunia fasion, baik ditingkat reginal maupun di tingkat nasional. Jangan tanya masalah prestasi kepada bella, karena banyak iven lomba dan festival sering memunculkanya sebagai kandidat juara.

“Bagi saya dunia modeling tersebut sangat menarik dan penuh tantangan, bukannya mudah untuk berjalan dan memeragakan busan di catwork dengan sepatu berhak tinggi 9 cm, semua membutuhkan latihan yang ekstra ketat dan terus menerus sehingga mendapatkan hasil yang maksimal.” Ujar dara kelahiran 2 Juni delapan belas tahun yang lalu ini.

Bella mengatakan, untuk mencapai hasil yang maksimal sangat dibutuhkan latihan yang serius dan maksimal pula. Terbukti dari beberapa ivent lomba, Bella muncul sebagai juara pertama lomba Catwork, Finalis Lomba Model majalah Kawanku, juara ke dua Duta Wisata Dua yang diadakan di Aceh beberapa waktu lalu dan masih banyak yang lainnya.

Keberhasilan ini tidak serta merta terjadi begitu saja, banyak faktor yang membuat Bella dapat meraih prestasi, terutama yang bersal dari diri sendiri, punya kemauan kuat, Berani mencoba hal-hal yang baru, disamping itu pula untuk mewujudkan ambisi yang kita inginkan, menurutnya, juga harus di dukung oleh orang tua, pelatih dan teman-teman. Jika semua ini sudah di dapatkan maka tinggal menjalankannya secara serius dan bertanggung jawab.

Mahasiswi Pertanian jurusan Agrobisnis Unsyiah yang kini masih menikmati semester satu ini menambahkan, “Dunia Model, merupakan dunia yang glamor dan memiliki cita rasa tersendiri bagi sebagian kalangan masyarakat, dilain pihak banyak juga masyarakat kita yang memandang sebelah mata untuk dunia kami ini, namun saya dan kawan-kawan tetap konsisten akan apa yang kami geluti hari ini, saya yakin lewat fasion orang lain akan mengenal asal, suku dan identitas kita, maka yakinlah ketika fasion Aceh di kenal orang maka semua orang akan mencari kekhasan kita lewat pakaian.”paparnya putri kedua pasangan Syamsuar dan Rahmah ini.

Dunia modeling bukanlah satu-satunya bidang ekspresi yang digeluti Bella, dunia acting pun di rambahnya dengan kegemilangan, setelah lolos dua kali test cesting, Bella pun dinobatkan menjadi pemeran utama dalam Film Lemak Mabok sebagai Farida yang disutradarai Nisfu Candra Dirwata dan di produksi oleh Ide Production. pada mulanya Bella merasa canggung dan bingung, kenapa suradara memilihnya menjadi pemeran Farida, sementara diantara kontestan banyak yang lebih baik dari dirinya.

“Film Lemak Mabok ini merupakan Film Komedi yang memasukan unsur etnikalitas Aceh yang sarat akan pesan dan cuplikan peristiwa yang terjadi dalam masyarakat Aceh, Inilah Film pertama saya. Beberapa teman-teman dicoba untuk menjadi peran Farida, namun yang terpilih oleh sutradara justru saya, sempat bingung juga, tapi lama-kelamaan peran itu menjadi menyatu dengan saya dan semua ini berkat arahan sutradara yang terus menerus mengarahkan saya untuk benar-benar menjadi Farida.” Urainya

Pengalaman untuk menjadi seorang bintang film ternyata harus terus diasah oleh belia yang satu ini, beda halnya dengan dunia fasion yang sudah melekat sejak lama. Dunia peran memang diakuinya sangat disukainya, namun baru beberapa waktu ini dapat di jalaninya dengan nyata, Bella mengakui dalam memerankan Farida banyak sekali yang harus diperbaiki, terutama persiapan untuk menjadi seorang aktor. Sejauh ini usaha Bella untuk belajar seni peran terus dilakukannya, kedekatannya dengan para seniman teater Taman Budaya kerap dijadikannya sebagai tempat bertanya berbagai persoalan tentang seni peran. “Saya ingin mendalami seni peran secara serius seperti ketika saya berada di dunia fasion,”ujarnya.

Rahmad Sanjaya

Taman Budaya Aceh Mati Suri Setalah Renovasi


Seniman ; Ganti Kepala Dinas Disbudpar

Kemegahan gedung yang telah di renovasi milyaran rupiah oleh BRR di tahun 2008 ternyata tidak menjamin tingginya intensitas kegiatan kesenian di Taman Budaya, banyak seniman mengeluhkan kondisi ini, dari mulai gedung yang tidak senyaman gedung lama hingga ke persoalan matinya berbagai kegiatan kesenian yang dulunya dirancang oleh Taman Budaya secara baik.

Sementara seniman yang sering mangkal di Taman Budaya juga merasakan perbedaan yang sangat besar selama empat tahun tarakhir. Taman Budaya jadi sepi program kesenian, yang ada hanya program-program sempalan yang tidak mengatas namakan kesenian, seperti acara resepsi perkawinan dan pelantikan, prajabatan pegawai negeri sipil. Dari pengakuan beberapa seorang seniman menyebutkan, perubahan fungsi Taman Budaya sebenarnya sudah terjadi ketika Sudjiman A Musa yang dulunya menjabat sebagai kepala Taman Budaya di gantikan Hj.Poernamawati, nampak jelas ketika itu gedung tertutup sangat sulit di pakai oleh seniman, tetapi jika para pejabat daerah ingin mengadakan acara, gedung tersebut selalu terbuka, disinilah kebiasaan pergelaran acara serimonial mulai menjangkit dan tidak dapat berhenti hingga saat ini.

Menurut Riyadi yang saat ini menjabat kepala Taman Budaya, sesuai dengan Tupoksi (Tugas, Pokok dan Fungsi), Taman Budaya adalah sebuah laboraturium, semua program kesenian dikonsentrasikan di sini. Baik itu eksperimen seni, pameran, pergelaran seni hingga pelatihan seni, hal ini pernah terwujud satu kali di tahun 2006.

Di tahun 2007 kegiatan kesenian juga hanya sekali dilakukan, karena Taman Budaya tidak memiliki dana untuk berbagai kegiatan kesenian, lagi pula di tahun ini ada rehap gedung tertutup oleh BRR. Riyadi menambahkan banyak seniman yang datang padanya untuk meminta bantuan dana kegiatan kesenian baik berupa pelatihan maupun pergelaran, namun Taman Budaya tidak kuasa membantu mereka.

“Karena sudah terlalu banyak seniman mengajukan usulan dan permohonan kepada Taman Budaya untuk bergabagai kegiatan seni, maka kami buatkan program dan kami layangkan ke BRR dan Pemerintah Daerah, namun hasilnya nihil, sedangkan di tahun 2008 Kita juga membuat program seperti tahun-tahun sebelumnya, baik berupa pergelaran maupun program fisik.” urainya

Lebih jauh Riyadi menambahkan, Pengajuan program rehap sekretariat (kantor) dan Galery bukan tanpa alasan, sejak dirinya menjabat kepala Taman Budaya, kondisi kantor, Galery dua dan beberapa bangunan peninggalan 1970 an ini sudah sangat rusak dan rapuh dimakan usia. Jadi sangat wajar kalau dirinya mengedepankan program fisik, karena di sekretariat bernaung 36 orang pegawai yang setiap saat kerja tanpa ada kenyamanan ruangan seperti layaknya kantor-kantor lainnya.

Menanggapi situasi yang berkembang di Taman Budaya akhir-akhir ini, seniman Banda Aceh yang merasa prihatin terhadap sepinya program dalam empat tahun terakhir ini. Sofyan mengatakan, “Marilah kita perbaiki kinerja kita, Tupoksi itu harus berjalan sesuai dengan aturan, jangan ada tumpang-tindih program. Selama ini saya lihat Disbudpar selaku induk dari UPTD seharusnya lebih arif mengatur berbagai program, Taman Budaya ini di bangun bukan untuk sekedar pajangan fisik yang megah. Tetapi dia juga memerlukan berbagai program yang sesuai dengan bentuk fisiknya yang megah itu. Kita bisa bayangkan gedung kesenian tanpa ada pertunjukan kesenian, lebih baik di bubarkan saja Taman Budaya, sebab ini akan membuat seniman kita bertanya-tanya, apa saja tugas orang di Taman Budaya kalau tidak memiliki program kesenian. Kepala Dinasnya harus bijak dalam mengejawatahkan Tupoksi UPTD yang satu ini.” Ujar Seniman Musik yang satu ini.

Dari pemantauan yang di lakukan Sipil, Taman Budaya memang sangat memprihatinkan, bangunan fisik yang di utarakan Riadi memang mengalami kerusakan, Sekretariat seperti rumah kardus yang di tambal sulam agar dapat berkantor seperti biasa, Galery Dua juga terlihat sangat kumuh, kamar mandinya tidak memiliki pintu sebagaimana mestinya, sementara seniman tari terus menggunakannya setiap saat. Lain lagi dengan mess seniman. Paska tsunami Mess Seniman tidak lagi berfungsi untuk para tamu yang datang ke Taman Budaya, tetapi sudah menjadi tempat tinggal permanen bagi sebagian karyawan Taman Budaya, seniman dan beberapa korban tsunami yang tidak memiliki rumah. Kondisi fisik Mess Seniman ini juga sangat hancur dimakan usia. Fisik yang terbuat dari papan sudah rapuh dan lapuk, sanitasi juga tidak memenuhi standar kesehatan.

Belum tuntas persoalan gedung dan beberapa bangunan yang dianggap sudah tidak layak pakai lagi, air dari PDAM pun berhenti, dari keterangan Riadi, air dari PDAM sudah tidak mengalir ke Taman Budaya karena pihaknya tidak sanggup membayar tiap bulannya. “Persoalan ini juga sudah kami sampaikan pada kepala dinas, namun hingga saat ini belum ada tanggapan apupun,” sebutnya.

Di Sisi lain ada dua Gedung Taman Budaya yang sudah direhap luar dan dalam, yaitu Gedung tertutup dan gedung terbuka (Open Stage). Untuk gedung tertutup di bantu 3,3 M, sedangkan Open Stage dibantu sebesar 2,3 M. Gedung tertutup juga di bantu 900 kursi dan 5 buah AC, dana pembangunan Taman Budaya ini dibantu Oleh BRR dipa 2006/2007. Namun hingga saat ini open stage belum serah terima dengan pihak Taman Budaya.

Saat ini Taman Budaya memiliki 36 karyawan, 4 orang klining servis yang harus membersihkan 2,7 Ha belum termasuk gedung. Dengan jumlah clining servis yang hanya berjumlah 4 orang tersebut Taman Budaya tidak akan bersih, maka dari itu Riyadi kerap memerintah para pegawainya untuk ikut membersihkan seluruh areal yang ada.

Taman Budaya juga merupakan salah satu aset Pendapatan Asli daerah, di tahun 2008 setoran ke Pemda 16,5 juta dari target 12 juta. Semua ini di dapat dari hasil sewa gedung yang kerap di sewa oleh seniman maupun masyarakat sekitar Banda Aceh. Pihak Taman budaya mengakui dengan adanya penyewaan gedung untuk seniman 1-1,5 juta (nego) dan untuk masyarakat 1,5 juta sampai 2 juta, seniman yang berdomisili di Banda Aceh tidak sepenuhnya menerima ketentuan ini, sebab mereka menganggap hidupnya Taman Budaya sejak mulai berdirinya selalu dikarenakan adanya seniman.

Seniman membandingkannya dengan masa Sudjiman A Musa menjadi kepala Taman Budaya, bilamana seniman ingin memakai salah satu gedung, cukup mengajukan surat tanpa sepeserpun ada di tarik bayaran. Para seniman juga menghimbau kepada kepala Disbudpar dan Pemerintah Daerah agar Taman Budaya benar-benar dijadikan laboratorium kesenian dan setiap seniman menggunakan gedung baik open stage maupun gedung tertutup di bebaskan dari pembayaran sewa.

“Kalau mau tahu seniman tidak pernah di bantu dalam proses kesenian, mau bikin pementasan di Taman Budaya harus bayar, sementara kalau ada ivent nasional, para pejabat yang dapat nama, dan selalu ikut serta dalam rombongan kesenian, kan lumayan dapat liburan gratis dengan alasan mengawal para seniman. Sekarang coba kita perhatikan Pemda kita tidak pernah memperhatikan seniman Aceh baik yang tradisi maupun yang modern, lalu apa kerja dinas kebudayaan, lebih baik ganti saja kepala Dinas Kebudayaan dan antek-antek alias calo-calo kesenian yang berada di Dinas beserta jajarannya. Mungkin dengan penggantian tersebut kesenian kita bisa lebih membaik.

Melalui media ini kami sampaikan agar para penentu kebijakan juga cepat tanggap dengan kinerja orang-orang yang anda tempatkan sebagai kepala Dinas, karena kesenian Aceh bukanlah politik tapi dia adalah identitas kita, ketika kita sudah tidak lagi memiliki kesenian dan kebudayaan Aceh ini mau jadi apa!” sebut seniman yang tidak ingin namanya di tulis.

Rahmad Sanjaya

Ulfa Ladayya “Jilbab Dapat Bedakan Muslim Atau Bukan”

Ketika Syariat Islam di tegakkan di Aceh semua wanita Aceh tidak ada pilihan lain harus mengenakan jilbab ketika berada di luar rumah. Bahkan ketika seruan memakai jilbab ini pertama kali di sosialisasikan pada masyarakat banyak pamplet dan seruan di spanduk rentang “kawasani wajib jilbab”.Gencarnya sosialisasi jilbab, membuat masyarakat semakin faham dan tanpa ada pemberitahuan lebih lanjut masyarakat Aceh terutama yang wanita selalu memakai jilbab ketika bepergian di luar rumah. Namun setelah bencana tsunami menghantam Aceh, tampak ada pergeseran nilai bagi kaum wanita Aceh. pemakaian Jilbab yang dulunya sudah tidak perlu di himbau lagi kini seolah terkikis perlahan-lahan,

Ulfa Ladayya yang kesehariannya bergelut dengan mode dan juga tercatat sebagai bagian dari sebuah perkumpulan Model di Banda Aceh mencoba menyikapi masalah penggunaan jilbab yang akhir-akhir ini semakin lepas dari pengawasan syariat Islam yang berlaku di Aceh saat ini.

Putri H.M.Nasir G dan Hj. Hasdiana Hasan yang kini memiliki dua orang buah hati T.M. Burhanissulthan Pribadi (7) dan Cut Ratu Ghaniyya Maulan Pribadi (6), menyebutkan, Saat ini mode Aceh semakin berkembang, apalagi jilbab. Dulunya jilbab yang ada di pasaran kita hanya berbentuk segitiga, dan warnanya sangat membosankan bagi siapa saja yang memakainya, namun dengan perkembangan zaman, jilbab sudah banyak corak dan motifnya, apalagi dapat disesuaikan dengan setelan yang kita pakai.” Ujar istri T.Taufan Maulana Pribadi ini.

Menantu T. Pribadi yang satu ini merupakan salah satu model yang sering ikut serta dalam peragaan busana baik di Banda Aceh dan beberapa kota lainnya, dia juga salah satu model yang memperagakan busana batik Aceh karya Nursanti istri walikota Banda Aceh ketika Gedung Batik Aceh di resmikan oleh ibu negara Ani Susilo Bambang Yudoyono beberapa waktu yang lalu.

Saat itu Ulfa Memakai gaun batik bermotif Kerawang Gayo Blangkejeren dengan perpaduan warna merah, garis kuning dan hitam. Dari penampilannya, ulfa tampak feminim dengan paduan jilbab yang berwarna merah dan hitam, tidak heran banyak para fotografer mengabadikannya ketika sedang beraksi, keserasian pakaian dan jilbab inilah yang membuat seorang wanita Aceh memiliki identitas.

“Sebaiknya sosialisasi jilbab pada kalangan wanita muda Aceh harus terus di galakkan, bukan hanya itu saja, tapi beri mereka pengertian bagaimana menyelaraskan antara pakaian dan jilbab yang mereka gunakan, agar tidak terjadi tabrakan warna sehingga pemakaian jilbab menjadi beban sangat berat bagi mereka, sosialisasi ini perlu di galakkan di daerah perkotaan, misalnya sekolah-sekolah, perguruan tinggi dan lain sebagainya, karena pada usia inilah yang sering kita lihat di jalan-jalan dengan berani tidak memakai jilbab,”Urainya

Model Yapsemo kelahiran Bireun 26 tahun yang lalu ini menambahkan, Aceh adalah daerah percontohan Syariat Islam yang menjadi kiblat daerah lain, maka sudah semestinya kita memperbaiki kondisi yang selama ini kita biarkan terkikis oleh bawaan kondisi yang berkembang selama ini, terutama persoalan jilbab, menurutnya dengan memakai jilbab kita dapat mengidentifikasikan wanita mana yang beragama Islam dan non Islam, sebab daerah kita merupakan daerah terbuka bagi siapa saja maka sudah barang tentu agamanya juga sangat berbeda-beda, dan pemakaian jilbab pun tidak harus di paksakan pada mereka yang non Islam. Tetapi bagi umat Islam yang hadir di Aceh apalagi penduduk Aslinya harus wajib memakai jilbab, tidak ada alasan untuk mengelak, sebab agama kita menganjurkan untuk itu, qanun juga berbicara masalah itu dan hukum masyarakat yang tidak tertulis dan berlaku sebagai budaya juga membahas tentang jilbab. Artinya memakai jilbab bukanlah kampungan tapi menutup penutup aurat bagi muslimah di nanggroe ini” , demikian Ulfa

Rahmad Sanjaya

Novaldin Ali H Pengusaha Burger Asal Gayo


Awalnya dia bermusik, tapi hanya berjalan sesaat. Bakat musik dalam diri Novaldin Ali H lelaki asal kelahiran Takengon (39), masih mengalir, sehingga tahun 1997 diapun mendirikan studio musik bersama Dedi Sarong---personel Band Metazone, Group Band asal Aceh yang pernah menjuarai festival Rock se Indonesia--. membangun studio Metazone di Lingke, Banda Aceh. Tentu bisnis itu tidak menjanjikan masa itu. Berbekal sebuah Ruko dua lantai, lelaki inipun lantas menjalankan usaha warung kopi di lantai bawah.

Sepinya order studio musik Metazone akibat konflik Aceh membuat gundah lelaki sederhana ini, andalan satu-satunya hanya warung kopi. Pada tahun 2000 Novan pun menikahi, Teman-temannya sesama pemusik yang baru datang dari Medan menyarankan Novan untuk berdagang Burger, karena menurut mereka berjualan berger sangat mudah dan menghasilkan

Mendengar tawaran ini Novan menanyakan perihal modal yang akan di keluarkan jika ingin berjualan Burger. Dari keterangan teman-temannya Novan hanya mengeluarkan uang Rp.750.000,- berikut gerobaknya dan sudah siap jualan, namun ketika ditanyakan pada tukang kayu yang berada di dekat studionya, harga gerobak berkisar antara Rp 3.750.000,-. Lelaki ini mulai kalut, modal di kantongnya sama sekali tidak mencukupi untuk membuat bisnis ini.

“Lama saya berpikir dan mencari cara agar usaha ini tetap terlaksana, akhirnya jalan keluarnya adalah berbicara dengan istri, saya coba meminjam emasnya dan entah mengapa istri saya itu sangat percaya akan pekerjaan yang ingin saya lakukan dan dia menyerahkan mahar kawin kami seberat 15 Mayam, ketika itu harga emas 365 ribu satu mayam, jadi saya punya modal awal Rp. 5.475.000,-“, dengan uang inilah saya buat gerobak sendiri.” jelasnya.

Ternyata persoalan Novan tidak sampai pada modal saja, saat gerobak selesai di buatnya, ia pun menyadari, tidak bisa membuat Burger sama sekali, namun langkah untuk menuju bisnis yang baru seteguh karang. Dengan berbekal uang modal yang dimilikinya, Novan menuju Medan di dampingi dua rekannya Putra dan Roy Fahmi untuk magang selama empat hari ke tempat penjualan Burger yang terletak di Thamrin Plaza.

Saat tiba di Banda Aceh, Novan di tawari untuk berjualan burger di tengah-tengah arena festival musik rock di stadion H Dimurtalla, sampai pukul 11.00 dagangannya belum satupun laku terjual, sebab makanan yang di jual Novan belum pernah di kenal baik oleh orang-orang yang ikut hadir dalam acara tersebut, bahkan ada yang menyebutkan burger itu adalah makanan kelinci karena di dalam roti ada sayurnya.

Namun ketika orang-arng di dalam stadion mulai keparan, gerobak burger Novan di serbu tanpa ampun. Ada yang makan bayar dan ada yang makan dan minum langsung di tinggal, waktu itu Novan tidak sanggup menghadapi pembeli yang begitu banyak, alasannya belum pernah jualan seperti itu selama ini. Jualan yang sangat berkesan di hari pertama membuka dagangan burger tetap menjadi memori yang indah baginya, sebab dagangan dan minuman botol titipan Anto seorang pedagang dekat studionya habis terjual, tapi uang hasil penjualannya entah kemana, Novan hanya gigit jari, di tangannya hanya ada uang Rp. 250.000,- , Burger dan berkerat-kerat teh botol juga tidak tahu dimana uangnya, namun lelaki tangguh yang satu ini hanya dapat tersenyum sembari melanjutkan usahanya tanpa henti.

“Banyak sekali pengalaman pahit yang saya rasakan saat memulai usaha ini, namun saat itu saya hanya berpikir satu hal, saya tidak boleh mundur, walau entah apalagi aral yang nantinya menghalangi jalannya bisnis ini.” Ungkapnya

Penderitaan berjualan Burger Novan setelah kejadian stadion nampaknya mengalami kemajuan lain ketika gerobak burger itu di pindahkan kembali di depan studio musiknya, semakin hari semakin banyak yang minati burger Novan yang di beri nama HIP. Kursi dan mejapun sudah mulai ada, namun kebingungan mulai melanda Novan kembali ketika sewa ruko mereka habis. Dan menurut pemilik ruko dia tidak lagi mengizinkan studio musik berada di tempatnya alasannya karena banyak yang rusak, sedangkan untuk berjualan burger di perbolehkan memperpanjang sewa. Novan juga tidak berharap dengan ruko tersebut, kalaupun diperpanjang sewa maka di lebih memilih ruko lain yang masih sederet dengan ruko yang di sewa untuk studio musik.

Kepindahan Novan ke ruko baru tidak serta merta kepindahan yang sangat nyaman, dia harus menunggu 3 bulan untuk menikmati tempat baru, namun berjualan burger tetap dilakukannya di pinggir jalan tidak jauh dari ruko baru yang sedang di renovasi oleh pemiliknya. Ketika ruko selesai, Novan baru dapat menikmati warung yang representatif dan layak meski harus membayar cicilan selama 3 tahun.

“Saat itu di tahun 2002, saya sudah punya karyawan enam orang, saya membuat gerobak satu lagi untuk kawasan simpang lima, artinya saya buka cabang baru. Malam minggu pertama saya berjualan di simpang lima, orang menyerbu gerobak kami, antri sampai macet jalan hingga ke kantor BPD, disinilah suasana mulai kita ciptakan. Dulunya kawasan simpang lima merupakan kawasan yang sepi setelah magrib, namun kami telah menciptakan keramaian dan suasana yang berbeda ketika itu. Lampu-lampu mulai ada dan kawasan itu nampak hidup setiap malam hingga saat ini.” Kenangnya

Munculnya HIP Burger menjadi penomenal bagi para pedagang lainnya yang sebelumnya belum berdagang di kawasan jl. Daud Beureueh yang dulunya Jl. T. Nyak Arief. Kawasan ini akhirnya menjadi pusat jajanan paling laris hingga ke Lampriet.

“Tahun 2002 adalah masa-masa sulit bagi kami berjualan di simpang lima, karena masa itu konflik Aceh sedang marak-maraknya, malam kami berjualan kerap diwarnai dengan dentuman bom dan rentetan senjata, dan kamipun tiarap bersembunyi di kantor pajak, gerobak tetap terbuka dan kami biarkan begitu saja, yang penting kami selamat,” ujarnya.

Setiap pulang jualan malam hari, Novan sering kali kena razia tentara dan polisi. Tetapi Novan dengan vespa bututnya yang berwarna biru tua, terus melaju sampai ke rumahnya di Lambhuk, “Saya tetap bekerja kendati situasi saat itu mencekam. Saya tetap berjualan, kalau tidak anak dan istri mau makan apa. Jadi demi anak dan istri saya tidak boleh jadi penakut.” Kata ayah dua orang anak ini.

Berkat prinsipnya itulah bisnis burger Novan kian maju. Tahun 2004, Sebelum tsunami melanda Aceh, Novan berhasil menambah gerobak burgernya menjadi 4 buah, tiga di Banda Aceh; Lingke, Lampriek, Simpang Lima dan satu lagi ada di Takengon; Simpang Empat.

Namun hanya sesaat usahanya kemudian terhenti akibat bencana tsunami. Usaha burger yang berada di Lingke hancur, sementara HIP Burger di Lampriek dan Simpang Lima Banda Aceh, hanya tinggal sisa-sisa saja. Novanpun hanya menggantungkan usahanya pada HIP Burger di Takengon.

Tapi sulit bagi Novan untuk bangkit lagi, karena dia harus kembali mencari modal usaha untuk melanjutkan dagangannya. Sementara usaha HIP Burger yang di Takengon hanya cukup untuk biaya operasional saja.

“Sejak itu itu saya mulai menjajaki pinjaman usaha ke bank, tapi berat karena bunga yang terlalu tinggi, termasuk di Bank-Bank Syariat. Untuk bunga bank saja itu lebih besar dari keuntungan saya. Jadi saya tidak lagi mencari pinjaman-pinjaman melalui bank.” Jelasnya.

Lebih jauh Novan menambahkan,”Tidak ada bank yang berbudi baik bagi masyarakat kita di Aceh, apalagi korban tsunami, buktinya ketika kami membutuhkan bantuan untuk modal usaha, bunganya melambung hingga 16 persen. Ini kan bukan membantu namanya, tapi mencekik, keuntungan kami saja tidak sampai seperti itu, dapatlah di bayangkan jika keuntungan kami cuma 20 sampai 25 persen, lalu kami harus membayar cicilan dan bunga, kami bisa-bisa berhutang dengan bank terus-terusan hingga semua milik kami disita bank. Tapi untunglah ada Jasa Raharja yang memberikan kami pinjaman dengan bunga hanya 6 persen dan usaha saya kembali berjalan.

Di awal bangkit kedua ini saya meminjam ke Jasa Raharja sebesar 25 juta, awalnya kami meminjam kredit sebesar 5 juta sebelum tsunami, dan belum lunas. Dan ketika saya melunasi kredit, mereka membantu kami dengan jumlah yang lumayan besar. Karena saya tahu BRR tidak pernah mau membantu memberi dana usaha bagi pengusaha makanan seperti kami, padahal di BRR itu ada Deputi Ekonomi yang di pimpin Syaid Faisal” Sebut lelaki berdarah Gayo ini.

Disamping pinjaman berbunga rendah yang di dapat Novan dari Jasa Raharja, para pegawainya yang tidak terkena tsunami juga memberinya motifasi untuk bangkit kembali untuk meneruskan usaha HIP Burgernya.

Empat bulan setelah tsunami, HIP Burger kembali buka di Simpang Lima dan setelah gerobak burger yang dulunya di Lampriek di rehap, HIP Burger pindah ke Beurawe sampai sekarang. Sedangkan HIP Burger di Takengon juga pindah persis di belakang Mesjid Raya Ruhammah Takengon, Aceh Tengah. Tentu dengan pasilitas dan halaman yang lebih luas dari sebelumnya.

Novan mengakui kelancaran usahanya hingga sekarang ini tidak lepas dari dukungan dan motifasi istrinya Juli. Katanya, kebangkitan semangatnya untuk tetap menjalankan bisnis burger ini lantaran sang istri bangga pada profesi yang digeluti Novan, kendati Novan sendiri merasa dirinya sebagai pedagang kaki lima yang kerap terjun langsung berdagang bersama para pekerjanya.

“Kadang-kadang istri saya setiap pulang kerja langsung ke tempat saya berdagang dan setiap dia menunggui saya memasak burger untuk para pelanggan, selalu saja saya merasa gugup, kadang-kadang tanpa sadar keringat saya semakin banyak, bukan karena panas api panggangan, tetapi karena istri ada di belakang memperhatikan saya masak. Tapi dialah yang terbaik bagi saya, segalanya bersal dari dia ada dalam hidup saya, jika saja Allah menentukan jodoh saya yang lain saya tidak tahu bagaimana menjalani masa-masa sulit dahulu hingga saya memiliki tiga tempat berjualan seperti saat ini.” Adunya.

Meski demikian Novan masih terus ingin membuat bisnisnya ini lebih maju, cita-citanya ingin membuat burger ini siap saji seperti yang dimiliki pembisnis makanan yang berlesensi luar negeri, artinya peralatan masaknya lebih baik dari saat ini. Semua ini juga kembali lagi ke persoalan dana, jika dananya cukup maka usaha burgernya akan semakin meningkat.

Investasi yang ditanamnya di HIP Burger Takengon mencapai 400 juta, itu juga belum memenuhi target baginya, belum lagi HIP burger yang saat ini berada di Banda Aceh. Untuk menutupi kekurangan di masing-masing HIP burger yang di bagunnya, Novan memakai sistem subsidi silang, artinya ketika HIP Burger di Takengon surplus maka di harus subsidi ke Banda Aceh, begitu pula sebaliknya.

Menurut Novan tingkat laku-tidaknya burger setiap harinya sangat berpariasi. Di Takengon yang buka mulai sore hingga pukul 00.00 wib kisarannya tidak kurang dari 500 roti dan untuk di Beurawe dan Simpang Lima mampu mencapai 100 sampai 200 roti setiap hari. Sementara harga jual HIP Burger ada yang Rp. 3.000,- dan ada pula yang harga Rp. 5.000,-. Jika dia menaikkan harga lebih dari itu, pelanggan akan lari meski harga bahan pokok saat ini terus melambung.

“Makanya saya bikin spanduk yang isinya Protes bahan baku naik Burger HIP turun harga!, spanduk ini saya pasang di HIP Brawe, Simpang Lima dan Takengon, semua ini ada tujuannya, terutama untuk mempertahankan tetap hidupnya bisnis saya di dua daerah ini.” demikian Noval

Rahmad Sanjaya

MY Bombang Apa Kaoy Populerkan HYM

Kesenian Hym yang berkembang di masyarakat Aceh semakin lama semakin hilang di telan zaman, sosok Apa Kaoy tiba-tiba menggugah semangat baru untuk kembali melestarikan kesenian yang satu ini.

Hym adalah salah satu bentuk sastra Aceh yang berarti teka-teki, namun MY Bombang memiliki kiat tersendiri dalam membawakan Hym setiap kali dia siaran di radionya, Bombang yang berperan sebagai Apa Kaoy membawakan Hym ini dengan cara berhikayat atau meupakhok, mendayu-dayu dan penuh dengan humor segar dan kaya makna.

Tak pelak penggemar Hym ini terbilang cukup banyak, separuh penduduk Banda Aceh sangat mengenal Apa Kaoy dengan Hym nya yang kocak dan menghibur. Kehadirannya di ruang publik pendengar radio, selalu dinantikan oleh berbagai kelompok umur terutama masyarakat pedesaan yang masih menggunakan radio sebagai sarana hiburan selain televisi.

Apa Kaoy yang beraksen Aceh kental, sering memberikan wejangan hidup, nasehat-nasehat, petuah agama dan bagaimana hidup di zaman yang sudah damai ini lewat Hym (teka-teki).

Lelaki yang dilahirkan di Aceh Utara 40 tahun yang lalu ini mengatakan, Kesenian Hym adalah warisan leluhur kita dan perlu kita lestarikan, karena siapa lagi yang mau mempedulikan kesenian kita kalau tidak kita. Hym adalah salah satu contoh sastra Aceh yang sudah kita bangkitkan kembali di masyarakat kita, setidaknya kesenian tua lainnya juga turut kita bangkitkan juga seperti Kesenian Peugah Haba, Poh Haba, sebuku, geulanggang labu dan masih banyak yang lainnya.” ujarnya

Kepedulian MY.Bombang terhadap kesenian tradisional merupakan tanggungjawab moral sebagai putra Aceh. baginya menghidupkan kesenian tradisi ibarat sebuah pertempuran antara rencong dengan peluru, meski dengan format yang sederhana sekalipun kita harus konsisten merawat dan melestarikan budaya kita sendiri, sebab ini semua merupakan identitas yang tidak boleh hilang dari kehidupan kita di Aceh.

Rahmad Sanjaya